Website Iklan Tayang Selamanya
Selamat datang di situs web periklanan jaringan unikbaca.com "Semoga Hari Anda Selalu Menyenangkan!"
Setidaknya satu iklan Anda posting juga di situs web iklan ini!
Agar pengunjung atau pengakses dapat mencari dan tahu usaha Anda
📝 POSTING Hari ini DISKON 50%

Tampilkan postingan dengan label Game. Tampilkan semua postingan
thumbnail

Pewdiepie, Orang Yang Sukses Berkat Kelucuannya Dalam Bermain Game

I DON'T CARE!
BARREL!! WHAT R U DOING HERE!?
STEPHANO!!!!

Ada yang tahu siapa yang suka  ngomong gitu waktu main game? Gak da yang tahu? Ayolah, tebak aja...


 

Baiklah daripada agan - agan pada bingung kita cari tahu siapa itu PewDiePie...
Nama aslinya adalah Felix Kjellberg , seorang pria berkebangsaan Swedia, lahir pada tanggal 24 oktober 1989.




Dia adalah seorang pria yang suka banget main game ampe seluruh hidupnya itu hanya untuk main game semata (LEBAY). Gak gak, dia sempat vakum untuk beberapa lama dan kemudian baru - baru ini muncul lagi di YouTube. Terus apa yang membuat manusia ini begitu menarik hingga viewers videonya ampe 71 Juta gitu...?
Simple aja, dia tu orangnya humoris karena bakat alaminya. Hehe...
Kalo agan - agan pada nonton videonya pasti bakalan ngakak dan pengen nonton lagi, lagi dan lagi...



Nah, untuk game - game yang ia mainkan, antara lain: Amnesia: Custom Story, Condemned, The Sacrifice, Haunted, dan lain - lain yang bergenre horror. Padahal gan, si "PewDiePie" ini paling penakut dan gak jarang setiap game yang ia mainkan dihiasi dengan air mata keindahan, eh salah, air mata ketakutan maksudnya. Bahkan, untuk video yang baru ia upload beberapa hari kemarin mengakibatkan kursi yang ia duduki rusak (PARAH).



Tapi, PewDiePie terkadang juga memainkan game - game lain yang bukan bergenre Horror, seperti Happy Wheels, dan parahnya ia juga memainkan Barbie The Game (Damn! It so freaky gay).



Gak cuman itu, ia juga suka karaoke online, dengan suara yang cempreng dan hampir mirip perempuan ketika ia teriak (memang mirip), ia kalahkan semua lagu yang di situs www.karaokeparty.com (Kambuh lagi lebay admin nih), ya gaklah, gak ada satupun lagu yang bisa ia menangkan dengan skor tinggi.



Nah agan, daripada berlama - lama baca ini baca itu nih admin kasih salah satu video yang bagian lucunya aja...

#1. Funny Moments

#2. Scariest Moments

#3. Pewdiepie On The News


Selamat Menikmati. Dan jangan lupa gan, subscribe juga ya, join di situs resminya and become a bro! in www.pewdiepie.se

Sumber 
thumbnail

Dreadout, Game Hantu Buatan Indonesia


"Dreadout" adalah sebuah game bergenre survival horror yang tengah dikembangkan oleh studio Digital Happiness yang beralamat di daerah Cigadung, Kota Bandung.

Bila nanti rampung, pemain bakal merasakan pengalaman bermain game horor dengan setting yang sangat Indonesia.


Permainan ini menempatkan pemain sebagai Linda, siswi SMA anggota klub fotografi yang bepergian bersama teman-teman satu klub untuk mendatangi sebuah kota yang sudah lama ditinggalkan.

Di sana, keanehan pun terjadi, seperti satu per satu temannya menghilang tanpa jejak, menyisakan Linda seorang diri. Linda ternyata memiliki kemampuan paranormal untuk melihat penampakan makhluk halus melalui media kamera yang dipegangnya.

"Plotnya memang terdengar klise, tapi kami menyiapkan beberapa twist pada ceritanya," ujar Pendiri Digital Happiness, Rachmad Imron, saat ditemui di Bandung, Jumat (8/6/2012).

Secara sepintas, permainan ini memang menggabungkan beberapa elemen dari game survival horror yang sudah ada di pasaran, seperti "Silent Hill" dengan setting kota yang ditinggalkan maupun "Fatal Frame" dengan penggunaan kamera sebagai alat untuk melihat hantu.

Dari grafis memang tidak bisa dibandingkan dua judul sebelumnya yang digarap oleh studio besar seperti Konami maupun Tecmo, "Dreadout" menggunakan engine grafis Unity 3D, dan masih terlihat berkotak-kotak.

Namun, konten yang cukup menjanjikan adalah isi game-nya. Tokoh protagonis digambarkan dengan pelajar SMA menggunakan baju putih abu-abu dan berlarian di gedung tua bergaya Belanda yang masih bisa ditemukan di beberapa tempat di Indonesia, cukup membuat suasana mencekam saat dimainkan.

Yang lebih khusus lagi adalah hantu-hantu yang ditampilkan sepanjang permainan. Terdapat pocong yang baru terlihat bila kita membidik dengan kamera.

Menurut Imron, contoh game yang sedang diperagakan adalah menunjukkan gameplay-nya sehingga hantu-hantu tersebut belum bisa diapa-apakan.

"Kami sudah menyiapkan beberapa jenis hantu dari Indonesia untuk ditampilkan dalam permainan ini," kata Imron.

Digital Happiness adalah satu dari 18 perusahaan rintisan atau startup yang menjadi peserta inkubasi Telkom di Bandung Digital Valley. Di sana, mereka bakal mendapatkan pendampingan teknis maupun manajerial selama enam bulan agar produknya lebih siap dijual.

Imron mengatakan, "Dreadout" direncanakan rampung enam bulan ke depan. Selain versi PC, pihaknya juga menyiapkan versi mobile dengan gameplay yang berbeda.


Sumber
thumbnail

Orang Indonesia Dibalik Pembuatan Game Assassin's Creed

http://assets.kompas.com/data/photo/2012/12/09/2126429p.jpg
Seri video game Asassin Creed dari Ubisoft yang kini telah mencapai judul ke lima (Assassin's Creed III) dikenal sebagai permainan yang menyajikan gameplay terbuka di tengah tempat-tempat historis yang tervisualisasi dengan indah.

Dalam seri game ini pemain menjelajahi lokasi-lokasi bersejarah seperti kota Istanbul pada zaman Ottoman, Roma dalam masa renaissance, serta Amerika Serikat sewaktu dilanda perang saudara. Semuanya ditampilkan dengan detil lingkungan dan arsitektur yang akurat sesuai era masing-masing.

Untuk mewujudkan itu semua diperlukan kerja keras yang tidak sedikit, mulai dari riset sejarah, kunjungan ke lokasi yang sesungguhnya, hingga proses pengembangan lingkungan dalam game. Nah, di sinilah Richard Wych Bharata Setiawan, seorang kelahiran Indonesia, memainkan peranannya.

http://assets.kompas.com/data/photo/2012/12/09/2130504.jpg?1355063434546
ubisoft

Lulusan Desain Komunikasi Visual Universitas Trisakti ini menjabat sebagai Level Artist di studio besar Ubisoft di Montreal, Kanada.

Sebagai perancang lingkungan game, Richard terlibat dalam pembuatan sejumlah game dalam seri Assassin's Creed, termasuk Brotherhood dan Revelations yang merupakan ekspansi dari judul Assassin's Creed II. Dia juga turut menangani proses desain dalam seri game populer lain bikinan Ubisoft, yaitu Prince of Persia.

Dari Lokal ke Mancanegara

Richard tidak serta-merta melompat ke Kanada begitu lulus kuliah. Pria yang akan segera menikah dalam waktu dekat ini mengawali karirnya sebagai desainer grafis di Forhet, pada 2005. Kurang lebih setahun kemudian, dia bergabung dengan Matahari studios -- sebuah pengembang game lokal -- sebagai Special Effects Artist.

"Kebetulan, saya lalu dapat informasi bahwa Ubisoft akan membuka studio di Asia Tenggara," ujar Pria yang mengaku belajar mendesain obyek-obyek dalam game secara otodidak ini.

http://assets.kompas.com/data/photo/2012/12/09/2138484.jpg?1355063931406
geekbox.net Salah satu setting lokasi di game Assassins Creed III

Jadilah Richard mengajukan lamaran sebagai special effects artist. Tetapi posisi yang diinginkannya itu ternyata tidak tersedia. Richard lantas nyemplung sebagai level artist dan modeller di Ubisoft Singapura pada tahun 2008 silam. Dia adalah salah satu dari dua orang Indonesia yang tergabung dalam tim awal studio Ubisoft Singapura yang berjumlah 25 orang.

"Ketika itu ada kejadian lucu di mana saya diminta mengisi form pekerjaan. Saya diberikan laptop, tetapi keyboard-nya menggunakan bahasa Perancis. Lama sekali saya mengisinya karena harus mencari huruf yang tepat satu per satu, ha ha ha," ujar Richard sambil tergelak ketika mengenang pengalamannya tersebut. Maklum, Ubisoft adalah perusahaan asal Perancis, rupanya mereka lupa membawa peralatan yang cocok untuk kawasan Asia Tenggara.

Tiga tahun bekerja di Singapura, Richard lantas pindah ke Studio utama Ubisoft di Montreal, Kanada, di mana dia bermukim hingga kini.

Pengalaman Richard menggunakan keyboard berbahasa Perancis berlanjut dalam bentuk yang berbeda di Montreal, karena Perancis adalah bahasa utama di kota itu. Richard pun makin getol belajar Bahasa Perancis. "Sekarang sudah tidak kaku lagi berbahasa Perancis meskipun masih harus banyak belajar," ujarnya.

Pekerjaan Kolosal

Melihat tampilan dunia dalam seri Game Assassin's Creed yang luas dan begitu mendetail, dapat dibayangkan bahwa pembuatnya pastilah bekerja keras untuk merealisasikan lingkungan game dari gambaran konsep yang ditetapkan sebelumnya.

Di studio Ubisoft, sebagian besar tanggung jawab ini berada di pundak Art Director yang memberikan arahan seputar rancangan game pada sejumlah sub-bagian, termasuk Character Design dan Level Designer yang menjadi atasan Richard.

"Kalau diumpamakan, Level Designer membuat 'mangkuk' lingkungan dunia game berikut 'level box' yang mewakili obyek-obyek dalam dunia game. Level Artist seperti saya kemudian mewujudkan dunia itu sesuai arahan," jelas Richard mengenai bidang pekerjaannya.

Dari situ, Richard bersama tim Level Artist memikirkan kira-kira arsitektur seperti apa yang sesuai dengan setting game, lalu bekerja membuat obyek-obyek dan lingkungan dalam game berdasarkan referensi yang didapat berikut limitasi interaksi dalam game yang ditetapkan oleh programmer.

Kadang proses ini bisa membuat pusing tujuh keliling. Richard memberi contoh salah satu level dalam game Assassin's Creed: Brotherhood yang menampilkan reruntuhan Colosseum di Roma, Italia, lengkap dengan ruang-ruang bawah tanahnya.

http://assets.kompas.com/data/photo/2012/12/09/2141563.jpg?1355064097656
gamesradar.com Colosseum dalam game Assassins Creed: Brotherhood

"Kami harus membuat Colosseum sesuai dengan keadaannya di abad ke-15, tahun 1400-an, sementara gambar-gambar referensi yang tersedia hanya dari tahun 2000-an," ungkap Richard. Kendati demikian, nyatanya di tengah keterbatasan itu, tim pengembang Ubisoft tetap berhasil memvisualisasikan desain Colosseum yang megah.

Ketika itu, Richard antara lain bertanggung jawab membuat setting dungeon atau ruang tahanan bawah tanah di Colosseum yang juga dipakai sebagai arena kejar-kejaran menggunakan kuda di dalam game. "Proses pembuatannya lama sekali, tapi ketika dimainkan dalam game, lima menit saja level-nya sudah lewat, ha ha ha,"

Dalam proses pembuatan game, Ubisoft menerapkan sistem 'milestone' atau target pencapaian dalam kurun waktu tertentu. Jika sudah dekat waktu deadline, Richard kerap lembur demi merampungkan pekerjaan.

Tantangan dalam melakukan proses desain lingkungan game itu pun selalu mengalami ekskalasi dari judul ke judul. Menurut Richard, ini karena Ubisoft selalu meminta rancangan yang lebih detail untuk game berikutnya. "Pengerjaan dari Assassin's Creed II ke Brotherhood lalu setelah itu ke Revelations, misalnya, selalu harus disertai dengan peningkatan kualitas sehingga kami harus bekerja lebih giat lagi."

Saat semuanya sudah selesai, dunia game kemudian digabungkan dengan bagian-bagian lainnya seperti karakter game hasil rancangan character artist dan fashion designer yang juga dibuat berdasaran referensi faktual.

Hasil karya Richard bisa dilihat di serangkaian judul game dalam seri populer ini, mulai Assassin's Creed II, Assassin's Creed: Brotherhood, Assassin's Creed: Revelations, hingga yang terbaru Assassin's Creed III yang tersedia untuk platform PC dan konsol game seperti Xbox 360 dan PlayStation 3.

Gerilya

Richard mengaku menikmati bekerja di studio terbesar Ubisoft di Montreal. "Suasananya cair, kekeluargaan. Semua karyawan, misalnya, makan siang bersama tanpa memandang posisi atau jabatan."

Meski begitu, pria yang mengaku suka main game untuk melihat-lihat desain lingkungannya dan mencari inspirasi ini masih meyempatkan diri pulang ke tahah air dengan memanfaatkan waktu senggang antar pembuatan judul game.

"Kebetulan, sekarang lagi in-between, jadi bisa pulang ke rumah," ujar Richard ketika ditemui KompasTekno di sela-sela gelaran Indocomtech 2012 di Jakarta, November lalu. Saat itu, seri game terbaru yang turut ditangani Richard, Assassin's Creed III, memang telah rampung dan baru dirilis ke pasaran.

Soal industri game di Indonesia, Richard mengatakan bahwa sebenarnya terdapat banyak talenta berbakat di Tanah Air. Hanya saja, menurut Richard, di samping belum adanya investor besar yang berani mendanai pembuatan game seperti Assassin's Creed, ada hal lain yang sedikit mengganjal kemajuan dunia game nusantara dalam mengembangkan game berskala besar.

"Banyak yang bagus, tapi kebanyakan dari mereka bergerak seperti pejuang gerilya zaman kemerdekaan, yaitu terpisah-pisah antar daerah. Seandainya saja bisa disatukan, tentu bisa kuat sekali," ujar Richard.

Bagaimana dengan para rekan seprofesi yang memutuskan untuk mengadu nasib di negeri orang, seperti Richard sendiri? Menurut dia, hal tersebut berkaitan dengan besarnya penghargaan atas karya mereka yang bisa diperoleh di luar negeri.

"Namanya juga memenuhi kebutuhan hidup. Di Indonesia banyak talenta pembuat game berkualitas internasional, tapi penghasilannya kurang. Seandainya keadaan itu berubah, pasti semua yang bekerja di luar negeri akan pulang kampung dengan senang hati," tandasnya.